Kamis, 29 November 2012

22:33

Beberapa saat yang lalu Mama menelpon dan kali ini ada suatu keputusan yang cukup berat untuk dikatakan.
Hampir semua orang terdekat saya tahu bahwa memiliki kamera DSLR adalah impian saya sejak dahulu, telah bertahun-tahun lamanya memimpikan adanya benda ini. Dan seketika, betapa bahagianya saya mendengarkan beberapa minggu yang lalu Papa memberitahukan akan membelikan benda tersebut tanpa saya minta. Sungguh luar biasa senangnya saya, bahkan segala ide dan rencana-rencana dulu yang ada diotak saya mulai muncul kembali untuk bersiap direalisasikan dalam bentuk nyata (bukan lagi khayalan).

Saya semakin fasih untuk mencari informasi tentang satu kamera yang akan saya miliki sebentar lagi, dan pilihannya jatuh ke kamera XXXX (yang sebaiknya tidak perlu saya sebutkan). Namun kecemasan mulai melanda seketika, bukan karena kali ini Papa akan membatalkan rencana itu "lagi", tetapi bayangan bahwa ternyata betapa banyak keperluan lainnya yang lebih perlu diprioritaskan dibanding harus mengalihkan dananya untuk "membeli" mimpi itu. 

Dan dalam obrolan saya dan Mama ditelpon, Mama dengan nada lumayan senang berkata "Sebentar lagi beli kamera", dan seketika saya mengeluarkan semua alasan saya tadi tentang bayangan-bayangan yang menghantui saya terhadap pertimbangan pembelian kamera tersebut. Sungguh dilema rasanya mengeluarkan kalimat demi kalimat dalam obrolan tersebut, tetapi sudah memantapkan diri untuk "menahan" dulu impian itu.

Butuh banyak belajar tentang makna prioritas, mana yang layak dan belum layak. Walaupun saya tidak akan memunafikkan diri bahwa saya sangat sedih kali ini. Ya Rabb' terima kasih atas pembelajaran untuk jauh lebih ikhlas lagi. Percaya suatu saat akan ada jalan kembali...

Tidak ada komentar: