Kamis, 11 Agustus 2011

Makassar = Kota Ruko


Perkembangan kota makassar sangat berkembang pesat 10 tahun belakangan ini, itulah yang saya amati dan saya rasakan. Menggagaskan diri sebagai kota metropolitan seperti layaknya ibu kota Jakarta. Hal yang paling mencolok adalah pembangunan gedung-gedung yang semakin hari semakin menjadi, yang mungkin tampaknya bagus tetapi menurut saya semakin menambah tidak jelasnya bentuk kota Makassar saat ini. Apalagi melihat hampir setiap sudut jalan dapat kita saksikan terdapat bangunan yang sementara dan sudah dibangun, khususnya bangunan ruko (rumah toko). Kali ini saya mencoba menulis opini saya tentang maraknya bangunan ruko di kota Makassar yang sangat saya banggakan ini.
 
Bisnis properti merupakan salah satu bisnis yang paling marak, sebagai negara yang mempunyai trafik perekonomian usaha yang berkembang pesat, semakin menumbuhkan minat pembangunan disetiap pelosok daerah ditanah air. Yang saya sesalkan adalah semakin hari semakin tidak tertatanya pembangunan di era ini. Saya bukan ahli tata ruang kota, tetapi sebagai penduduk dikota yang katanya (metropolitan) saya merasa "roh" dari pemandangan kota Makassar berangsur menghilang. Yang kurang sedap dipandang mata adalah jumlah bangunan ruko yang semakin bertambah, bentuk bangunan yang dapat dikatakan "hampir" sama rata dengan pintu dorong besi berwarna-warni, yang kebanyakan sepanjang hari tertutup tak tahu apakah ada usaha atau penghuninya didalam bangunan tersebut. Bisa dikatakan sebagai model rumah hantu diera modern. Mengapa saya mengatakan demikian, karena bangunan yang begitu "tampak" megah dari luar berjejer kedepan dan kebelakang menyerupai kompleks perumahan yang tidak mempunyai halam rumput sebagai penghijauan, kebanyakan hanya sebagai "pajangan" pelengkap aksesoris "kota metropolitan". Pertanyaan saya adalah, haruskan kota Makassar yang kami cintai ini dikenal dengan sebutan KOTA RUKO ?, mengapa para "penguasa" kota ini tidak menyadari bahwa hal ini menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan?. Apakah identitas kota ini akan tergeserkan dengan modernisasi yang mungkin suatu hari tak ada lagi sisa-sisa ciri khas kota Makassar ?.

Sebaiknya kota ini mempunyai suatu kawasan khusus perniagaan identik seperti contohnya jl. sulawesi yang identik dengan pusat penjualan bahan bangunan, jl. gunung merapi identik dengan penjualan alat listrik, atau di jl. veteran yang identik dengan perlengkapan otomotifnya. Sehingga tata ruang kota ini tidak berantakan. Seandainya mungkin ada kebijakan-kebijakan khusus yang mampu membatasi pembangunan ruko-ruko, alangkah sangat baiknya. Karena dampak yang ditimbulkan adalah, semakin minimnya lahan hijau di kota ini. Coba anda lihat, apakah ada ruko yang mempunyai halaman yang ditumbuhi pohon atau rumput serta tanaman didepannya ? saya rasa TIDAK ADA, kalaupun ada hanya ditumbuhi pohon yang terkesan maksa, dan memang aneh jika membayangkan ruko "berhalaman". Halaman depannya cenderung dihiasi dengan hamparan pavin blok dan deretan kendaraan bermotor yang parkir.

Saya membandingkan dengan kota Bandung, kota yang saya diami lebih dari 3 tahun belakangan ini tanpa bermaksud menyudutkan kota tempat lahir saya Makassar. Kota ini memang punya bentuk bangunan yang sangat beragam dan kreatif menurut saya, walaupun sering terjebak macet dijalan, saya masih bisa sedikit terhibur dengan pemandangan kota yang cukup asri. Walaupun memang polusinya juga seimbang. Hahahaaaa
Tapi "koleksi" ruko-nya tidak sebanyak kota Makassar, lebih banyak pembangunan perumahan "mewah" yang asri dan pertokoan dengan bentuk yang menarik dan tidak monoton. Jumlah taman di tengah kotanya pun cukup banyak.

Saya membayangkan kota Makassar di masa depan bisa lebih tertata, lebih banyak penghijauan ditiap sudut jalan, jumlah pembangunan gedung-gedung dapat ditata lagi. Dan yang paling penting adalah fungsi utama dari bangunan tersebut, jangan sampai hanya jadi "rumah hantu" versi modern.
Makassar bisa tonji gammara cika' !!!!

Tidak ada komentar: