Sabtu, 15 Januari 2011

Saya Bangga Dengan Papa...



Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Kali ini ingin bercerita tentang sosok Papa saya, namanya Syamsir Rasyid beliau lahir tanggal 12 Mei 1958 yang artinya sebentar lagi beliau akan berusia 53 tahun. Banyak perubahan yang terjadi selama hampir 3 tahun ini, semenjak saya merantau kuliah. Dulu, dari TK sampai SMA beliaulah yang sering mengantar bahkan menjemputku ke sekolah, dan 14 tahun saya mendapat omelan sepanjang perjalan menuju sekolah. Satu alasan mengapa beliau memarahi ku, karena saya sering tidak tepat waktu, ya saya kurang bisa menghargai waktu. Kini, saya merindukan saat-saat yang saat itu saya benci, saat itu saya benci diomelin sepanjang hari dan saat ini ingin mendengarkannya lagi.


Hal yang paling saya ingat adalah ketika saya mengikuti ujian masuk SMP Negeri 6 Makassar, saya pamit dari rumah dengan doa kedua orang tua saya dan Papa mengantar saya dengan Vespa butut peninggalan Almarhum Opa saya. Beliau menunggu saya sampai saya selesai ujian, kedengarannya tidak ada yang istimewa dari cerita ini, tetapi itu adalah sesuatu yang saya tak akan lupa, saat bersama Papa saya dengan Vespa Bututnya. Vespa itu yang mengantar jemputku sedari TK, dan dijual setelah saya memasuki bangku SMP. Saat mendengar Vespa itu akan dijual, sayalah yang paling rewel sampai menangis-nangis agar motor itu tidak dijual, selain saya menyukai Vespa itu, itu adalah peninggalan Opa saya. Opa meninggal saat Papa masih SMP kalau tidak salah. 



Papa adalah sosok yang sangat teramat sederhana. Beliau sering menunggu dimobil saja jika kami berjalan-jalan ke Mall. Jarang sekali memiliki baju baru, itupun kalau Mama yang membelikan. Papa orangnya sangat keras, diantara saudara-saudaranya beliau paling disegani, begitu pula kebanyakan sepupu saya. Gak bakal pergi kemana-mana jika sudah didepan TV nonton acara Tinju atau F1. 



Tanggal 1 Januari 2011 kemarin adalah hari yang cukup menyedihkan, beliau sakit demam yang mengakibatkan ia terkapar diatas tempat tidur. Baru kali ini saya melihat beliau lemah seperti itu, Papa menyuruh saya membelikan obat dan kebetulan Papa ingin makan bakso. Saat itu juga saya bergegas untuk membelikan pesanannya, sepanjang perjalanan saya terus memikirkan keadaan beliau dan saya menangis...
Papa yang semakin hari tampak semakin tua dengan rambut yang mulai memutih, Papa yang dulunya kuat kini semakin hari staminanya semakin menurun. Sepanjang perjalanan itu pula saya mengingat-ingat peristiwa-peristiwa bersama beliau, saat-saat beliau mengajarkan saya mengendarai motor jangan sampai ketahuan Mama, saat-saat ia memarahi saya sebagai kewajiban beliau sebagai seorang ayah melihat anaknya melakukan kesalahan, dan sebagainya.



Malam itu saya merenungi betapa saya bangga dengan Papa saya, walaupun kita jarang untuk bercerita, tetapi dia sungguh banyak mengajarkanku banyak hal dengan segala yang beliau lakukan. Itu adalah malam terakhir saya dirumah selama seminggu itu, besok paginya saya harus kembali ke Bandung lagi. Papa masih sempat mengantarku ke Bandara bersama Mama dengan kondisi seperti itu, tidak seperti biasanya, Papa tidak turun dari mobil mengantarku kedepan pintu keberangkatan, kami hanya berpamitan diatas mobil, saya mencium pipinya dan beliau berkata hati-hati dijalan.



Dalam tiap doa, saya menghaturkan agar kedua Orang Tua saya senantiasa diberikan kesehatan dan kebahagiaan, semoga diampunkan segala dosa-dosanya, dan kelak mereka dapat menjadi penghuni surga. Amin ya Rab'...

Ada Band Feat Gita Gutawa - Yang Terbaik Bagimu

1 komentar:

Astri.Gustiani mengatakan...

ya.. aq pun bangga dengan papaku..
seperti kk bangga dengan papa kk..

My father is the real hero for me..
love papa.. jadi terharu inget papa..
http://www.smileycodes.info/emo/babysoldier/81.gif