Senin, 31 Mei 2010

Kebanggaan Untuk Seorang Sahabat

Namanya Bakhrul Afif Amsak, gue manggil dia Abang soalnya dia jauh lebih dewasa dibanding gue, walaupun sebenarnya umur gue lebih tua dari dia. Haahahhaaa...
Dia adalah salah satu sahabat terbaik gue yang banyak ngajarin hal dari pengalaman hidup yang dia alami.

Sebenarnya gue dulu satu SMP sama dia di SMP Negeri 6 Makassar, cuman gak akrab. Taunya kalau gak salah gara-gara waktu kelas 2 SMP bareng ikutan gerak jalan anti narkoba. Begitu masuk SMA, kebetulan bareng daftar di SMA Negeri 3 Makassar dan lulus hingga akhirnya kelas 1 sekelas. Kelas 2 dan 3 gue masuk kelas IPS, dia ma kebanyakan teman gue yang lainnya pada masuk IPA. Waktu kelas 1 dulu rencananya mau masuk ekskul Paskibra bareng, trus gue bilang duluan aja deh, gue masuknya pas kelas 2 aja. Ya udah dia masuk Paskib hingga akhirnya dia dilantik jadi ketua Paskib kelas 2, dan sampai kita lulus SMA gue gak pernah masuk paskib sama sekali. Hahahahaaa...

Gue gak bakal cerita detail apa yang terjadi dalam hidup dia diakhir kita mau lulus SMA, tapi disitulah mungkin titik dimana segala kesabaran dan keimanannya di uji oleh Allah SWT. Disaat itu gue betul-betul merasa bangga dengan dia, ditengah masalah yang bertubi-tubi datang menghampiri, Shalat dan Ngaji-nya tidak dia tinggalkan.

Cerita lain adalah usaha keras dia untuk masuk IPDN setelah lulus SMA, tiap hari dia latihan keras untuk persiapan tes masuknya. Tapi nasib baik sekali lagi tak berpihak kepadanya, dia tidak lulus. Dan akhirnya dia kuliah Farmasi, gue yakin waktu itu dia sangat tidak menikmati kuliahnya. Hingga akhirnya setahun kemudian tes IPDN dibuka kembali, gue benar-benar doain sahabat gue ini supaya bisa keterima di IPDN, soalnya inilah mimpi dia sesungguhnya.

Tuhan mendengar doa gue atas kerja keras yang benar-benar dia perlihatkan. Dan sampai suatu hari untuk pertama kalinya gue melihat dia memakai seragam IPDN, luar biasa, betapa bangganya gue melihat sahabat sendiri akhirnya bisa mendapat mimpinya itu. Mungkin “nilai” doa gue tak seberapa dibanding doa dari bokap, nyokap, ama saudara-saudaranya, tetapi inilah mungkin satu-satunya cara buat gue buat men-support dia.

Walaupun sekarang sama-sama diBandung tapi sama aja bohong, buat nagkring bareng aja susahnya minta ampun. Tau sendirilah betapa disiplinnya lingkungan IPDN. Gue gak bakal lupa perkataan nyokapnya sekali waktu, katanya “Doain ya semoga Afif bisa bareng juga kuliahnya (*IPDN) di Bandung, biar orang taulah dia juga bisa”. Dan sekarang semuanya bisa terbukti. Hanya saja karena perjalanan dia masih panjang, harapan gue semoga saja dia gak cepat puas atas apa yang dia peroleh saat ini. Karena ini belum ada apa-apanya, sebenarnya tantangannya baru saja dimulai. Yang pasti adalah, semoga dia bisa tetap menjadi sahabat yang selama ini gue kenal.






Saat ini dia menjadi Wakil Ketua Kontingen Sulawesi Selatan buat angkatan XX 2009 di IPDN. Semoga saja bisa menjalankan amanat yang dipercayakan dengan baik. Amieenn..
Tulisan ini didedikasikan buat sahabat gue Bakhrul Afif Amsak, sebagai bahan mawas diri kalau semua yang udah lu dapat tidak seperti membuat semangkuk mi instan.

2 komentar:

HIMATIKA FMIPA UNM mengatakan...

Nice story bebh..

duniaZACKY mengatakan...

makasih narny komennya ^_^